Jika Anda menjalankan bisnis managed services, mulai dari hosting, private cloud, backup, disaster recovery, hingga security operations, pelanggan mempercayakan ketersediaan layanan mereka kepada Anda. Di balik setiap SLA (service-level agreement) yang Anda janjikan, ada data center yang menjadi fondasi operasional bisnis Anda.
Bagi banyak penyedia managed services di Indonesia, seluruh infrastruktur tersebut masih bergantung pada satu fasilitas. Platform dibangun di sana, pelanggan mulai menggunakan layanan dari sana, dan jaringan dirancang berdasarkan lokasi tersebut. Selama semuanya berjalan normal, tidak ada masalah. Namun, ketika satu gedung, satu jalur pasokan listrik, atau satu rute fiber mengalami gangguan, seluruh layanan bisa ikut terdampak.
Panduan ini membahas hal-hal yang perlu dipertimbangkan saat memilih data center untuk bisnis managed services, mengapa ketergantungan pada satu lokasi pada akhirnya dapat menjadi risiko bisnis, serta bagaimana memilih dan menghubungkan site kedua agar layanan tetap tersedia ketika salah satu lokasi mengalami gangguan.
Mengapa Managed Services Membutuhkan Standar yang Lebih Tinggi
Perusahaan yang mengelola sistem TI sendiri menanggung risiko operasionalnya sendiri. Sebaliknya, penyedia managed services menanggung risiko bagi seluruh pelanggan yang menggunakan platform mereka.
Perbedaan ini membuat ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
- SLA Anda hanya sekuat fasilitas yang menopangnya. Jika Anda menjanjikan ketersediaan layanan sebesar 99,95%, data center yang digunakan harus mampu memberikan tingkat ketersediaan yang lebih tinggi, dengan margin yang cukup untuk mengakomodasi pemeliharaan dan insiden yang mungkin terjadi di sisi Anda.
- Pelanggan turut bergantung pada standar kepatuhan Anda. Bank, perusahaan asuransi, dan bisnis di sektor yang diatur secara ketat akan menanyakan lokasi penyimpanan data, pihak yang dapat mengaksesnya, serta bagaimana data tersebut dilindungi. Kontrol keamanan dan kepatuhan data center menjadi bagian dari jawaban Anda.
- Satu gangguan dapat berdampak pada banyak pelanggan sekaligus. Satu insiden bisa memicu kompensasi SLA, eskalasi ke tim dukungan, hingga hilangnya pelanggan dalam waktu bersamaan.
Menurut Annual Outage Analysis 2026 dari Uptime Institute, gangguan pada pasokan listrik dan fasilitas masih menjadi penyebab utama insiden outage yang berdampak signifikan. Laporan yang sama juga mencatat peningkatan gangguan terkait fiber dan konektivitas, yang cenderung membutuhkan waktu pemulihan lebih lama.
Bagi penyedia layanan yang menjadikan ketersediaan sebagai nilai utama bisnisnya, kedua risiko tersebut perlu ditangani dengan serius.
Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Memilih Data Center untuk Managed Services
Baik Anda sedang memilih fasilitas pertama maupun merencanakan site kedua, berikut adalah kriteria utama yang perlu dipertimbangkan oleh penyedia managed services.
1. Fasilitas yang tangguh dan mudah dipelihara
Pilih fasilitas yang dirancang agar sistem kelistrikan dan pendinginannya dapat menjalani pemeliharaan tanpa mengharuskan server atau perangkat di dalam rack dimatikan. Inilah salah satu prinsip utama desain Tier III.
Tanyakan tentang redundansi setiap sistem, termasuk pasokan listrik dari utilitas, generator, UPS, dan pendingin. Pastikan juga Anda memahami perbedaan SLA kelistrikan untuk perangkat dengan dua koneksi daya (dual-corded) dan perangkat dengan satu koneksi daya (single-corded).
2. Netral terhadap operator jaringan dan memiliki banyak pilihan konektivitas
Managed services bergantung pada jaringan untuk menghadirkan layanan kepada pelanggan. Data center yang carrier-neutral memungkinkan Anda memilih di antara berbagai penyedia jaringan, menegosiasikan biaya yang lebih kompetitif, dan membangun jalur konektivitas upstream yang beragam.
Kehadiran internet exchange di gedung yang sama juga dapat memperpendek jalur koneksi menuju jaringan pelanggan.
Pelajari lebih lanjut tentang apa itu data center carrier-neutral.
3. Akses jaringan ke pelanggan dan mitra bisnis
Banyak pelanggan managed services membutuhkan konektivitas privat, bukan sekadar koneksi melalui internet publik.
Periksa apakah fasilitas menyediakan cross-connect ke operator jaringan yang digunakan pelanggan, koneksi metro ke data center lain, serta koneksi privat ke penyedia public cloud untuk mendukung layanan hybrid.
4. Dukungan teknis di lokasi yang sesuai untuk tim yang ramping
Sebagian besar penyedia managed services tidak menempatkan engineer di data center sepanjang waktu. Layanan remote hands yang andal memungkinkan Anda menangani penggantian perangkat keras, penataan kabel, dan restart perangkat tanpa harus mengirim staf melintasi Jakarta pada tengah malam.
Pastikan waktu respons, cakupan pekerjaan, dan batas layanan remote hands dijelaskan secara jelas.
5. Keamanan dan kepatuhan yang dapat memenuhi kebutuhan audit pelanggan
Tanyakan sertifikasi yang dimiliki fasilitas beserta cakupannya, lapisan keamanan fisik, prosedur kontrol akses, dan dukungan yang tersedia untuk audit pelanggan.
Pada akhirnya, auditor pelanggan Anda mungkin akan meminta informasi yang sama.
6. Ruang untuk berkembang dan kontrak yang fleksibel
Bisnis managed services biasanya berkembang seiring bertambahnya pelanggan. Pilih fasilitas dengan ketentuan kontrak yang memungkinkan Anda menambah rack atau kapasitas daya saat memperoleh pelanggan baru, tanpa harus menegosiasikan ulang seluruh kontrak dari awal.
Kapan Satu Data Center Tidak Lagi Cukup?
Memulai operasional dengan satu data center merupakan langkah yang wajar. Namun, ketergantungan pada satu lokasi dapat berubah menjadi risiko bisnis ketika salah satu kondisi berikut mulai muncul:
- Anda menawarkan layanan high availability atau disaster recovery. Akan sulit meyakinkan pelanggan untuk menggunakan layanan disaster recovery jika platform Anda sendiri tidak memiliki lokasi pemulihan.
- Pelanggan Anda berasal dari sektor yang diatur secara ketat. Di Indonesia, sektor jasa keuangan memiliki ketentuan terkait data center dan disaster recovery center, termasuk yang tercantum dalam POJK 11/POJK.03/2022 tentang Penyelenggaraan Teknologi Informasi oleh Bank Umum. Untuk memahami implikasinya, baca panduan kami tentang bagaimana OJK mengatur disaster recovery center di Indonesia. Perlu diperhatikan bahwa lokasi pemulihan untuk memenuhi persyaratan regulasi umumnya diharapkan berada di zona risiko yang berbeda dari lokasi utama. Karena itu, konfirmasikan persyaratan yang berlaku kepada tim kepatuhan pelanggan sebelum menganggap site kedua dalam satu kawasan metropolitan sudah memenuhi kebutuhan DR mereka.
- Komitmen SLA Anda semakin mendekati batas kemampuan fasilitas. Jika ketersediaan yang Anda janjikan hampir sama dengan tingkat ketersediaan gedung tempat sistem beroperasi, Anda tidak memiliki banyak ruang untuk menghadapi gangguan.
- Kontrak dengan pelanggan semakin besar. Dalam proses pengadaan, pelanggan enterprise semakin sering menanyakan keberadaan site kedua sebagai bagian dari penilaian penyedia layanan.
- Anda pernah mengalami insiden yang nyaris menyebabkan outage. Gangguan pasokan listrik, putusnya kabel fiber, atau insiden pemeliharaan yang hampir menghentikan layanan merupakan sinyal kuat bahwa arsitektur infrastruktur perlu dievaluasi.
Cara Memilih Site Kedua
Site kedua bukan sekadar fasilitas data center tambahan. Nilainya terletak pada seberapa mandiri site tersebut dari lokasi pertama, sekaligus seberapa dekat keduanya untuk tetap beroperasi sebagai satu platform.
Pisahkan sumber risiko, bukan hanya lokasi gedung
Kedua site sebaiknya tidak bergantung pada satu titik kegagalan yang sama. Periksa apakah keduanya:
- Mendapatkan pasokan listrik dari jalur utilitas atau gardu induk yang berbeda, jika memungkinkan.
- Menggunakan rute fiber dan titik masuk kabel yang berbeda, sehingga satu insiden putus kabel tidak memutus konektivitas kedua site sekaligus.
- Berada di lokasi dengan profil risiko yang berbeda, termasuk paparan banjir, ketinggian lokasi, dan akses jalan. Baca juga artikel kami tentang risiko lokasi data center di Jakarta untuk mengetahui aspek yang perlu dievaluasi.
- Tidak bergantung pada satu operator jaringan yang sama sebagai satu-satunya penyedia konektivitas.
Tentukan apakah Anda membutuhkan high availability atau disaster recovery
Site kedua dapat memiliki dua tujuan berbeda. Masing-masing membutuhkan pertimbangan jarak yang berbeda pula.
- High availability (HA): Menjaga layanan tetap berjalan ketika terjadi kegagalan pada tingkat fasilitas, idealnya tanpa kehilangan data. Pendekatan ini membutuhkan replikasi sinkron (synchronous replication), sehingga kedua site harus berjarak cukup dekat, biasanya dalam kawasan metropolitan yang sama, dengan latensi pulang-pergi hanya beberapa milidetik.
- Disaster recovery (DR): Memulihkan layanan setelah terjadi peristiwa berskala regional, seperti banjir besar, kegagalan jaringan listrik regional, atau gempa bumi. Pendekatan ini membutuhkan jarak geografis yang lebih jauh, sehingga replikasi umumnya dilakukan secara asinkron (asynchronous replication) dengan toleransi terhadap sejumlah kehilangan data yang telah ditentukan melalui RPO (recovery point objective).
Site kedua dalam satu kawasan metropolitan dapat memperkuat high availability, tetapi belum tentu memenuhi persyaratan regulator atau auditor yang mengharuskan lokasi pemulihan berada di zona risiko berbeda.
Karena itu, banyak platform yang diatur secara ketat membutuhkan keduanya: dua site dalam satu kawasan metropolitan untuk HA, ditambah satu site di luar kawasan tersebut untuk DR.
| Aspek | Site kedua dalam satu kawasan metropolitan (HA) | Site di luar kawasan (DR) |
|---|---|---|
| Melindungi dari | Gangguan gedung, pasokan listrik, atau fiber | Peristiwa regional, seperti banjir, kegagalan jaringan listrik, atau gempa bumi |
| Metode replikasi | Sinkron | Asinkron |
| Potensi kehilangan data (RPO) | Mendekati nol | Menit hingga jam |
| Kesesuaian sebagai site DR untuk kebutuhan regulasi | Perlu dikonfirmasi dengan auditor pelanggan | Umumnya memang ditujukan untuk kebutuhan ini |
Tentukan model operasional yang tepat
| Model | Cara kerja | Paling sesuai untuk |
|---|---|---|
| Active-passive | Site kedua menyimpan replika data dan kapasitas siaga, lalu mengambil alih ketika terjadi kegagalan di site utama | Layanan backup dan DR serta platform yang mempertimbangkan efisiensi biaya |
| Active-active | Kedua site melayani trafik aktif dan masing-masing mampu menanggung seluruh beban layanan jika site lainnya mengalami gangguan | Hosting dengan high availability dan platform yang melayani pelanggan secara langsung dengan SLA ketat |
| Pembagian berdasarkan layanan | Sebagian layanan terutama berjalan di masing-masing site, dan kedua site saling menjadi cadangan | Penyedia layanan yang sedang berkembang dan perlu menyeimbangkan biaya dengan ketahanan infrastruktur |
Apa pun model yang dipilih, pastikan site kedua memiliki kapasitas yang cukup untuk menangani beban layanan kritis secara mandiri. Jika tidak, site tersebut hanya menjadi cadangan di atas kertas.
Menghubungkan Kedua Site
Koneksi antardata center sama pentingnya dengan fasilitas itu sendiri. Jika koneksi terputus, proses replikasi dapat berhenti dan mekanisme failover menjadi lebih berisiko.
Berikut beberapa praktik yang perlu diterapkan untuk konektivitas antarsite:
- Gunakan konektivitas metro khusus. Hindari mengandalkan internet publik untuk trafik replikasi dan manajemen infrastruktur.
- Bangun jalur konektivitas yang beragam. Dua koneksi melalui rute fisik yang terpisah dapat melindungi layanan dari satu insiden putus kabel fiber. Baca panduan kami tentang redundansi jaringan untuk memastikan keandalan data center untuk memahami prinsip-prinsipnya.
- Rencanakan bandwidth untuk kebutuhan pemulihan, bukan hanya replikasi rutin. Setelah terjadi gangguan, koneksi mungkin perlu menyinkronkan ulang data dalam jumlah besar dengan cepat.
- Pastikan kedua site memiliki konektivitas upstream masing-masing. Setiap site harus dapat mengakses internet dan jaringan pelanggan secara mandiri, dengan mekanisme routing yang dapat mengalihkan trafik secara otomatis ketika salah satu site tidak tersedia.
- Uji failover secara berkala. Desain DR yang belum pernah diuji masih sebatas asumsi. Jadwalkan pengujian failover terkontrol dan dokumentasikan hasilnya untuk pelanggan maupun auditor.
Peran EDGE2 dalam Strategi Redundansi Data Center
Bagi penyedia managed services yang saat ini sudah menggunakan layanan colocation di lokasi lain di Jakarta, EDGE2 di Kuningan dapat menjadi pilihan untuk mendukung kebutuhan high availability.
Fasilitas ini berada di gedung terpisah di pusat kota Jakarta, dengan infrastruktur listrik dan fiber tersendiri, serta cukup dekat dengan site yang sudah digunakan untuk mendukung replikasi sinkron.
Untuk kebutuhan disaster recovery yang harus memenuhi persyaratan regulasi, EDGE2 dapat dipasangkan dengan site tambahan di luar kawasan metropolitan.
EDGE2 milik Digital Edge Indonesia merupakan fasilitas data center carrier-neutral dengan desain Tier III, sistem kelistrikan 2N, dan SLA daya 100%.
Sementara itu, layanan Cross-Link menyediakan konektivitas metro antara fasilitas Digital Edge dan lokasi strategis lainnya dalam kawasan metropolitan yang sama. Pilihan kapasitasnya mencakup 1, 10, atau 100 Gbps, dengan opsi koneksi terlindungi maupun dua jalur yang beragam secara fisik (dual-diverse).
Konektivitas semacam ini menjadi salah satu komponen penting dalam arsitektur dua site yang dirancang untuk menjaga ketersediaan layanan.
Selain itu, layanan remote hands 24/7 memungkinkan penyedia managed services memperoleh dukungan teknis di lokasi sepanjang waktu, tanpa harus menempatkan staf secara permanen di data center.
Kesimpulan
Bagi penyedia managed services, data center merupakan bagian dari produk yang ditawarkan kepada pelanggan. Fasilitas yang tepat harus menggabungkan pasokan listrik dan sistem pendingin yang andal, konektivitas carrier-neutral, akses ke jaringan pelanggan dan mitra, dukungan teknis di lokasi yang dapat diandalkan, serta standar keamanan yang memenuhi ekspektasi auditor pelanggan.
Seiring pertumbuhan platform dan meningkatnya tuntutan SLA, ketergantungan pada satu site dapat menjadi salah satu risiko terbesar dalam bisnis Anda.
Site kedua yang dipilih dengan tepat dapat mengurangi risiko tersebut, terutama jika memiliki infrastruktur listrik, fiber, dan profil lokasi yang independen, tetapi tetap cukup dekat untuk mendukung replikasi real-time. Dengan dukungan konektivitas metro melalui jalur yang beragam, Anda dapat meningkatkan ketersediaan layanan sekaligus memberikan bukti yang lebih kuat ketika pelanggan meminta jaminan keandalan.
Sudah menggunakan colocation di Jakarta dan sedang merencanakan site kedua? Hubungi tim kami untuk mendiskusikan penambahan redundansi melalui EDGE2 dan menghubungkannya dengan fasilitas Anda saat ini menggunakan Cross-Link.





