Setiap perusahaan sekuritas, asset manager, dan platform fintech yang beroperasi di pasar modal Indonesia menggunakan produk dasar yang sama: IDX market data dari Bursa Efek Indonesia (IDX). Namun, masih banyak perusahaan yang tidak begitu memperhatikan mengenai metode koneksi dengan sumber data tersebut
Pilihan ini lebih penting dari yang terlihat. Ia menentukan biaya data, seberapa cepat data diterima, apa saja yang secara kontraktual boleh dilakukan perusahaan terhadap data tersebut, serta seberapa banyak infrastruktur yang harus dimiliki dan dikelola sendiri. Keputusan ini juga biasanya dibuat sekali, lalu diwariskan selama bertahun-tahun, sering kali oleh tim yang tidak menyadari bahwa ada keputusan yang perlu dibuat sama sekali.
Panduan ini membahas apa saja yang sebenarnya dilisensikan oleh IDX Data Services, dua jalur konektivitas IDX yang tersedia untuk menerima data, kapan masing-masing jalur menjadi pilihan yang tepat, serta mengapa physical layer di balik keduanya perlu mendapat perhatian lebih besar daripada yang biasanya diberikan.
Apa Saja Lisensi Produk IDX?
Kesalahpahaman yang umum terjadi adalah menganggap “market data” sebagai satu produk. Melalui IDX Data Services, terdapat empat jenis lisensi yang berbeda, dan sebuah perusahaan mungkin membutuhkan lebih dari satu: IDX Market Data (produk saham, obligasi, dan derivatif, mulai dari file end-of-day hingga feed real-time), IDX Data Reference (laporan keuangan, corporate actions, dan keterbukaan informasi perusahaan tercatat), IDX Index License (penggunaan indeks IDX untuk produk seperti ETF dan reksa dana), IDX Data Publication (publikasi statistik rutin), serta IDX Connection License untuk perusahaan yang ingin menjadi Network Service Provider (NSP) — bukan sekadar pengguna data.
IDX Market Data dan IDX Data Reference masing-masing tersedia dalam bentuk lisensi Display atau Non-Display. Perbedaan ini adalah salah satu area yang paling sering menimbulkan masalah bagi perusahaan. Display mencakup data yang ditampilkan kepada pengguna melalui layar. Non-Display mencakup data yang dikonsumsi oleh sistem — misalnya untuk algorithmic execution, automated risk checks, portfolio valuation engine, atau perhitungan indeks. Perusahaan yang memiliki lisensi Display, lalu menyalurkan data tersebut ke pricing engine, sebenarnya memiliki masalah lisensi, bukan hanya masalah teknis. Masalah seperti ini biasanya baru muncul saat audit, bukan ketika implementasi dilakukan.
IDX Connection License merupakan kategori yang terpisah dari empat kategori data di atas. Lisensi ini diberikan kepada perusahaan yang ingin menjadi NSP IDX — yaitu carrier berlisensi yang diperbolehkan menyediakan konektivitas IDX ke sistem subscriber. Sebagian besar perusahaan finansial tidak akan membutuhkan lisensi ini; mereka cukup membeli layanan konektivitas dari NSP yang sudah memilikinya.
Baca juga: Financial Services di Digital Edge Indonesia
Dua Jalur: Direct Connection dan Indirect Connection
Setelah kebutuhan lisensi ditentukan, pengiriman data dapat dilakukan melalui salah satu dari dua jalur resmi yang ditetapkan IDX.
Direct Connection berarti mengambil data langsung dari sumbernya. Perusahaan memiliki lisensi IDX sendiri dan menghubungkan sistemnya ke IDX Data Systems melalui dedicated leased line yang disediakan oleh NSP IDX berlisensi.
Indirect Connection berarti menerima data melalui redistributor berlisensi — vendor data yang sudah memiliki hubungan langsung dengan IDX dan menjual kembali feed tersebut, biasanya sekaligus dengan normalisasi data, arsip historis, symbology, dan API yang didukung.
Perbedaannya cukup jelas:
| Direct Connection | Indirect Connection (Redistributor) | |
| Lisensi | Perusahaan memiliki lisensi IDX sendiri | Menggunakan lisensi vendor, perusahaan berkontrak dengan redistributor |
| Delivery | Leased line melalui NSP IDX berlisensi | feed, API, atau terminal milik vendor |
| Format data | Format native IDX, tanpa modifikasi | Dinormalisasi, diperkaya, dan dapat mencakup berbagai market |
| Latency | Terendah — langsung dari sumber | Bertambah karena melalui vendor |
| Infrastruktur | Perusahaan memiliki dan mengelola handoff, feed handler, dan resilience | Sebagian besar menjadi tanggung jawab vendor |
| Paling cocok untuk | Execution, market making, systematic strategies, dan internal pricing dalam skala besar | Research, advisory, reporting, dan kebutuhan multi-market |
Kapan Direct Connection Layak Dipilih
Direct Connection membutuhkan pekerjaan yang jauh lebih besar dibandingkan Indirect Connection. Empat situasi berikut biasanya membuat investasi tersebut sepadan.
Yang pertama adalah ketika latency merupakan bagian dari strategi itu sendiri. IDX menyediakan data full-depth order book melalui layanan real-time Non-Display, bersama varian yang lebih ringan untuk top-of-book dan last-sale. Perusahaan yang menjalankan systematic execution atau market making berdasarkan full order book mengambil keputusan dalam kondisi di mana tambahan latency dari vendor benar-benar menjadi biaya nyata. Perusahaan yang hanya membuat laporan performa end-of-day tidak menghadapi kebutuhan yang sama.
Kedua, ketika data digunakan oleh sistem, bukan hanya ditampilkan di layar. Dalam skala Non-Display, lisensi langsung dari sumber seringkali lebih murah dibandingkan membayar entitlement vendor berdasarkan jumlah pengguna. Pendekatan ini juga menghilangkan ketidakjelasan compliance ketika data dari vendor harus dialirkan ke proses otomatis.
Ketiga, ketika format native menjadi kebutuhan, bukan sekadar preferensi. Sebagian perusahaan membutuhkan format message milik bursa secara langsung — baik karena sistem mereka dibangun berdasarkan format tersebut, atau karena proses normalisasi vendor dapat menambahkan asumsi yang ingin mereka kendalikan sendiri.
Keempat, ketika ketergantungan pada satu vendor menjadi risiko yang harus dikelola. Bagi perusahaan yang regulator atau risk committee-nya memperhatikan konsentrasi vendor dalam critical path, mengambil data secara langsung dapat mengubah risk profile, meskipun tidak selalu mengubah biayanya.
Untuk perusahaan lainnya — bisnis advisory, research desk, asset manager dengan kebutuhan multi-market, dan sebagian besar platform fintech — Indirect Connection adalah pilihan yang tepat. Membayar untuk Direct Connection dalam kasus tersebut berarti membeli kemampuan yang kemungkinan besar tidak akan pernah digunakan oleh bisnis.
Di Mana JTPM Berperan, dan Mengapa Berbeda?
Kedua hal ini sering dianggap sama, dan kebingungan tersebut dapat menyebabkan kesalahan dalam budgeting.
JTPM, the Integrated Capital Market Network, adalah jaringan privat tertutup yang membawa transaksi: order entry ke bursa, clearing melalui KPEI, dan settlement melalui KSEI. Jaringan inilah yang memungkinkan perusahaan menjadi participant yang beroperasi di pasar.
IDX Direct Connection membawa market data dari IDX ke sistem subscriber dengan jalur langsung dan latency yang lebih baik
Perusahaan sekuritas membutuhkan keduanya, JTPM bersifat wajib untuk ke Market Data (IDX), KSEI dan KPEI, dan IDX Direct Connect untuk koneksi ke Market Data (IDX) yang lebih cepat
Physical Layer yang Menjadi Fondasi Keduanya
Apa pun jalur yang dipilih, koneksi tersebut pada akhirnya harus berhenti secara fisik di suatu lokasi — dan lokasi tersebut secara tidak langsung menentukan biaya, waktu provisioning, serta resilience.
Waktu provisioning pada dasarnya merupakan masalah fiber. Leased line menuju gedung yang belum memiliki kehadiran carrier membutuhkan pembangunan fiber baru: perizinan, pekerjaan sipil, dan waktu berbulan-bulan. Leased line menuju fasilitas carrier-neutral tempat NSP IDX sudah beroperasi hanya membutuhkan cross-connect — koneksi patch di dalam gedung yang dapat dipesan dalam hitungan hari. Circuit-nya sama. Waktu penyediaannya berbeda jauh.
Carrier neutrality membuat provider diversity lebih terjangkau. Memenuhi persyaratan dua provider JTPM, atau sekadar menghindari ketergantungan pada satu carrier untuk data path, menjadi lebih mudah ketika beberapa NSP berlisensi beroperasi di fasilitas yang sama dan menghubungkan ke provider kedua hanya membutuhkan tambahan cross-connect. Sebaliknya, hal ini menjadi mahal dan lambat jika harus dilakukan lewat gedung kedua.
Konsolidasi merupakan manfaat yang sering diremehkan. Market data, trading connectivity, akses cloud untuk workload risk dan analytics, serta kapasitas internet untuk layanan publik merupakan empat kebutuhan berbeda yang terlalu sering ditempatkan di empat lokasi berbeda. Menempatkan semuanya dalam satu footprint colocation mengurangi jumlah hubungan interconnection yang harus dioperasikan oleh tim infrastruktur yang kecil — dan bagi sebagian besar perusahaan sekuritas di Indonesia, keterbatasan inilah yang justru menjadi constraint utama, bukan anggaran.
Disaster recovery bukan sesuatu yang bisa dipikirkan belakangan. Baik data path maupun transaction path membutuhkan secondary site.Secara umum, merancang konektivitas DR site bersamaan dengan primary site cenderung lebih murah dibandingkan melakukan retrofit di kemudian hari — terutama karena persyaratan resilience yang berlaku bagi institusi keuangan di Indonesia adalah praktik umum yang diharapkan.
Kesimpulan
Menyediakan akses ke IDX market data sebenarnya melibatkan dua keputusan, bukan satu. Keputusan pertama bersifat komersial dan legal: kategori lisensi apa yang benar-benar dibutuhkan bisnis, serta apakah Direct Connection atau Indirect Connection lebih sesuai dengan cara data tersebut akan digunakan.
Keputusan kedua bersifat infrastruktur fisik, dan inilah yang paling sering dibiarkan mengikuti default. Konfigurasi infrastruktur menentukan seberapa cepat konektivitas IDX dapat diaktifkan, seberapa terjangkau biaya operasional, serta seberapa cepat transaksi user dapat dilakukan. Perusahaan yang secara konsisten memikirkan hal ini dengan matang cenderung memiliki infrastruktur yang lebih sederhana dan recurring cost yang lebih rendah.
Digital Edge Indonesia di Jakarta menyediakan akses carrier-neutral ke NSP IDX berlisensi dan provider konektivitas pasar modal, sehingga data pasar modal Indonesia, koneksi JTPM maupun IDX Direct Connect dapat diakses melalui cross-connect dengan mudah. Talk to our team untuk memetakan kebutuhan market data dan trading connectivity Anda ke dalam satu footprint colocation.





