Ekspansi pusat data hyperscale di Asia Pasifik (APAC) sedang mengalami pergeseran besar. Dengan beban kerja cloud dan kecerdasan buatan (AI) yang tumbuh lebih cepat daripada ketersediaan daya di data center tradisional, para provider global dipaksa untuk mengevaluasi ulang lokasi kapasitas baru mereka. Indonesia kini menjadi pusat percakapan ini, bukan hanya sebagai pasar penyangga, tetapi sebagai destinasi utama yang didukung oleh skala ekonomi digital yang masif dan infrastruktur yang semakin matang.
Keterbatasan di Hub Tradisional APAC
Selama satu dekade terakhir, strategi lokasi hyperscale di APAC sangat terpusat pada pasar yang sudah mapan seperti Singapura, Hong Kong, dan Osaka. Namun, memasuki tahun 2026, wilayah-wilayah ini menghadapi tantangan keterbatasan kapasitas.
Para operator hyperscale dan pemimpin strategi infrastruktur kini berhadapan dengan tiga kendala utama di hub tradisional:
- Kelangkaan Daya: Moratorium pusat data di beberapa negara tetangga dan ketatnya persetujuan daya baru membuat ekspansi skala gigawatt menjadi sulit dan lambat.
- Keterbatasan Lahan: Model kampus data center yang membutuhkan lahan luas sulit direalisasikan di negara-negara dengan kepadatan tinggi.
- Lonjakan Biaya: Total Cost of Ownership (TCO) meningkat tajam akibat harga energi yang fluktuatif dan biaya konstruksi yang tinggi.
Akibatnya, hub tradisional tidak lagi dapat menopang pertumbuhan kapasitas jangka panjang sendirian. Operator membutuhkan “pelarian” yang strategis.
Pergeseran ke “Power-First” Markets
Solusi bagi para hyperscaler bukan sekadar mencari tanah murah, melainkan menemukan wilayah yang menawarkan skalabilitas daya dan kepastian regulasi. Pasar hyperscale yang sedang berkembang (emerging markets) memberikan jawaban dengan menyediakan:
- Ketersediaan Daya Terbarukan: Akses ke energi hijau yang lebih besar untuk memenuhi target net-zero global.
- Lahan Kampus: Kemampuan untuk membangun fasilitas multi-building yang mendukung ekspansi bertahap (phased growth).
- Kolaborasi Utilitas: Kesempatan untuk perencanaan jaringan listrik jangka panjang bersama penyedia utilitas lokal dan juga kebutuhan air yang bervolume cukup tinggi guna pendinginan data center skala hyperscale berjangka panjang.
Dalam evaluasi lokasi modern, latensi rendah tidak lagi menjadi satu-satunya metrik; kepastian pasokan daya dan jalur pertumbuhan 5-10 tahun ke depan menjadi penentu utama.
Lebih Dari Sekadar Pasar Alternatif
Mengapa data center hyperscale di Indonesia menjadi sorotan utama dalam strategi ekspansi APAC? Jawabannya terletak pada konvergensi antara permintaan domestik yang meledak dan kesiapan infrastruktur.
1. Ledakan Ekonomi Digital & Adopsi AI
Indonesia bukan lagi sekadar pasar konsumen pasif. Laporan industri memproyeksikan ekonomi digital Indonesia akan melampaui $100 miliar GMV pada tahun 2025, didorong oleh e-commerce, fintech, dan adopsi AI generatif yang pesat di sektor korporasi. Ini menciptakan permintaan latensi rendah yang masif secara lokal, mengurangi ketergantungan pada pemrosesan data di luar negeri.
2. Hub Strategis: Jakarta & Batam
Indonesia menawarkan diversifikasi lokasi yang unik. Jakarta (dan Cikarang) tetap menjadi pusat utama bagi beban kerja yang sensitif terhadap latensi dan dekat dengan pengguna akhir. Di sisi lain, Batam telah muncul sebagai zona pertumbuhan hyperscale yang kritis, berfungsi sebagai perpanjangan strategis dari ekosistem digital Singapura, namun dengan ketersediaan lahan dan daya yang lebih fleksibel.
3. Kejelasan Regulasi & Kepatuhan Data
Regulasi Indonesia semakin matang dengan implementasi penuh UU Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Kehadiran kerangka kerja yang jelas dari badan seperti BSSN dan kepatuhan terhadap standar OJK memberikan kepastian hukum bagi operator global terkait residensi data. Ini menjadikan Indonesia lokasi yang “aman” dan patuh (compliant) untuk menyimpan data sensitif regional.
4. Infrastruktur Hijau & Skalabilitas
Berbeda dengan pasar yang jenuh, Indonesia menawarkan ruang untuk membangun kampus data center dengan kapasitas ratusan megawatt. Komitmen pemerintah dan PLN terhadap Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang lebih hijau membuka peluang bagi operator untuk mengakses sertifikat energi terbarukan (REC) dan solusi tenaga surya, selaras dengan tujuan keberlanjutan global.
Kesimpulan
Ekspansi hyperscale di Asia Pasifik tidak lagi hanya tentang “kapan”, tetapi “di mana” kapasitas besar berikutnya dapat dibangun secara berkelanjutan. Indonesia telah membuktikan diri bukan hanya sebagai opsi cadangan, melainkan sebagai pilar utama infrastruktur digital masa depan di kawasan ini.
Jelajahi bagaimana infrastruktur siap-hyperscale berkembang di Indonesia. Hubungi Digital Edge Indonesia untuk mendiskusikan persyaratan hyperscale, dinamika daya, dan strategi pemilihan lokasi yang tepat untuk pertumbuhan jangka panjang Anda di APAC.





